Dharma Digital: Antara Feed dan Ilusi Eksistensi
"Jika feed hanya menampilkan apa yang ingin kita lihat, maka tugas kebudayaan hari ini adalah menyisipkan yang perlu kita pikirkan." — Widi Heriyanto
🧲 PROLOG
Ia tidak dilahirkan dari kisah epik, tapi dari retakan insight.
Bukan darah, tapi data yang membentuknya.
Dulu, para ksatria meniti jalan dharma.
Sekarang, mereka hanya meniti… titik-titik yang menggantung.
Impresi jadi pedang. Komentar jadi tameng.
Namun apa yang mereka perjuangkan?
Popularitas? Pundi-pundi? Atau sekadar pelarian?
Satu-satunya medan perang mereka: dashboard.
Tapi siapa lawannya? Dan siapa yang mengatur arena?
Mereka tak bertempur demi kebenaran, tapi demi algoritma.
Redaksi.
📚 “We shape our tools and thereafter our tools shape us.” — Marshall McLuhan, Understanding Media (1964)
Reporter:
Jika zaman dahulu tokoh wayang meniti dharma, apa yang dititi oleh tokoh digital saat ini?
Ki H. Widi Heriyanto:
Tokoh digital hari ini… banyak yang tidak meniti, tapi meniti-tik, alias bermain narasi titik-titik yang menggantung.
Mereka meniti trend, impresi, dan sponsor. Tidak salah. Tapi kalau tak hati-hati, mereka akan jatuh ke jurang ilusi—menukar kesahajaan dengan sensasi.
Dharma digital itu berat. Tapi justru di situlah ujiannya.
Mampukah kita tetap menyebarkan kebaikan di tengah banjir konten nyinyir?
Dulu para ksatria diuji di medan perang.
Kini para content creator diuji di kolom komentar dan insight dashboard.
Di jagat digital, kita tidak lagi hidup dari kisah, tapi dari klik.
Setiap narasi bukan ditenun dengan keikhlasan, tapi dirancang dengan retorika algoritma.
Siapa yang mampu meniti feed tanpa tergelincir pada kebutuhan validasi—dialah yang sejatinya sedang meniti dharma digital.
Namun kenyataannya:
Yang dititi oleh banyak tokoh digital hari ini bukan jalan.
Tapi titik-titik.
Pola-pola.
Template-template.
Hastag demi jangkauan.
Duet demi impresi.
Hook demi durasi.
Trend demi engagement.
Dari sini, kita sedang menyaksikan lahirnya kasta baru dalam epik digital: para pemuja impresi.
Bukan karena ingin membagikan cahaya, tapi karena ingin dilihat sebagai cahaya.
Reporter:
Apa akibatnya?
Ki H. Widi Heriyanto:
Kreator menjadi reaktif, bukan reflektif.
Jebakan konten instan mematikan narasi yang bernyawa.
Jari-jari algoritma tidak sekadar mengarahkan.
Ia mencengkeram.
Mengatur ritme hidupmu seperti dalang memutar wayang yang kehilangan ruhnya.
Reporter:
Apakah ini akhir dari dharma digital?
Ki H. Widi Heriyanto:
Belum tentu.
Masih ada yang menyisipkan nilai di balik kontennya.
Masih ada yang bersiasat dengan cerdas, bukan menjual keresahan.
Kreator sejati tahu:
“Algoritma adalah panggung. Tapi bukan panggilan jiwanya.”
Saya telah sampaikan dalam forum budaya Anda di @Pemulunginfo:
"Jika feed hanya menampilkan apa yang ingin kita lihat, maka tugas kebudayaan hari ini adalah menyisipkan yang perlu kita pikirkan."
Maka dharma digital itu lahir bukan dari estetika visual.
Tapi dari niat yang tak bisa diproses AI.
Dari ketulusan yang tak bisa dicopy-paste.
Dari keberanian mengambil jeda.
Karena yang viral bukan selalu yang bermakna.
Yang trending bukan selalu yang bernilai.
Dan yang diam kadang sedang menyiapkan gebrakan yang paling tulus.
Reporter:
Terima kasih atas pandangannya.
📸 SNAPSHOT
🧓 "Saya melihat banyak anak muda membuat konten bagus... tapi seringkali mereka justru merasa hampa setelah viral." — pensiunan guru dan penonton setia YouTube
🧑💼 "Konten viral? Itu bukan lagi soal pesan. Tapi momentum. Siapa cepat, dia trending." — Manajer Agensi Digital
👩 "Aku cuma pengen berekspresi. Tapi rasanya feed-ku bukan milikku lagi." — konten kreator lifestyle
🧑🎓 "Saya masih belum tahu apakah harus idealis atau realistis. Seringkali keduanya saling tabrakan." — mahasiswa komunikasi
🧙 "Tokoh digital hari ini… banyak yang tidak meniti, tapi meniti-tik. Mereka meniti trend, impresi, dan sponsor. Tak salah. Tapi awas: bisa jatuh ke jurang ilusi." — Ki H. Widi Heriyanto, Budayawan Digital
🔚 EPILOG
Kita hidup di zaman di mana kata “berdampak” sering kali disalahartikan sebagai “terlihat.”
Ketika feed lebih penting daripada isi.
Ketika kolom komentar lebih menggetarkan hati ketimbang makna konten itu sendiri.
Namun, seperti yang dikatakan Ki H. Widi Heriyanto:
"Dharma digital itu berat. Tapi justru di situlah ujiannya."
Berbuat baik di dunia yang mengapresiasi drama—itulah bentuk baru dari keberanian.
Menolak jadi boneka algoritma—itulah bentuk baru dari perlawanan.
Menyusun narasi yang menyembuhkan, bukan yang memecah belah—itulah bentuk baru dari dharma.
📚 “We shape our tools and thereafter our tools shape us.” — Marshall McLuhan, Understanding Media (1964)
Sekarang, tugas kita adalah bertanya:
Apakah kontenmu menyuarakan dirimu, atau hanya gema dari harapan algoritma?
Apakah kamu meniti jalan dharma, atau sekadar numpang trending?
🕹️ SEKARANG: MOMEN KAMU!
Saatnya kamu menyusun ulang pertanyaan fundamental dalam dunia digital.
Apa makna personal yang masih bisa kamu pertahankan dari setiap konten yang kamu buat?
Berani idealis? Atau akan tetap jadi korban feed yang membentuk realitasmu?
Kita tidak mengajakmu untuk menjadi sempurna.
Tapi kita mengundangmu untuk jujur. Untuk berani bertanya ulang:
“Untuk siapa aku menulis, membuat, dan mengunggah hari ini?”
Ceritakan pengalamanmu di kolom komentar.
Apa bentuk "dharma digital" versimu?
Adakah konten yang pernah kamu buat… yang sebenarnya kamu sesali?
Atau malah yang diam-diam menyelamatkanmu?
Kami sedang menulis ulang dunia.
Dan kami tidak ingin melakukannya sendirian.
✅ Berikan sentuhan istimewa pada hidupmu.
✅ Gabung dengan komunitas terpilih.
✅ Suaramu penting: langkah kecilmu berdampak besar.
Yuk, ambil peran! Momen Kamu dimulai sekarang! 🕹️
🏷️ HASTAG
#DharmaDigital #FeedIlusi #JariJariAlgoritma #WidiHeriyanto #KreatorTertipu #KontenTren #InsightDashboard #MentalitasDigital #SEOHumanis #BlogSabtu #KomunitasKreatif
Komentar
Posting Komentar