Algoritma Baik vs Buruk: Siapa yang Mengendalikanmu?

“Kalau algoritma bisa mencintai, itu bukan cinta. Itu pengulangan perilaku yang dimetakan.” – Widi Heriyanto

🧲 PROLOG

Ia tidak terlihat. Tapi ia menontonmu sepanjang waktu.
Ia tidak bersuara. Tapi bisikannya mempengaruhi tiap klikmu.
Bukan manusia. Tapi lebih tahu siapa kamu dari kamu sendiri.

Algoritma bukan lagi alat bantu. Ia kini jadi peramal, pengarah, bahkan penentu.
Namun, yang paling menakutkan dari algoritma—bukanlah kecepatan atau skalanya.
Melainkan, kemampuannya menyamar sebagai kebebasan.

Di antara janji personalisasi dan kenyamanan digital,
ada sesuatu yang diam-diam kita tukar:
kehendak bebas.

Sebuah pertarungan sedang terjadi. Tapi mungkin kita tak sadar telah jadi bagian dari salah satunya.
Atau justru... hanya jadi pion di papan catur yang mereka ciptakan sendiri?

Redaksi.

📚 “Freedom is not the absence of structure but the ability to choose one's structure.” — Michel Foucault, “Discipline and Punish” (1975)


Dunia digital kini seperti labirin yang kita pilih sendiri... atau setidaknya, kita pikir kita memilihnya.

Di balik sentuhan jari pada layar, algoritma bekerja seperti dalang yang tak kelihatan. Mempersilakan kita memilih. Tapi diam-diam, ia telah menggambar panggung dan menaruh lakon di tengahnya.

Kita diberi pilihan. Tapi dalam piring yang sudah disusun.

Kebebasan semu ini punya nama: soft-determinisme algoritmik.

Mari jujur sejenak.
Saat kamu scroll TikTok malam-malam, siapa yang memilih video itu?
Kamu?
Atau pola klik-mu yang sebelumnya?

Kita pikir kita merdeka memilih.
Padahal kita sedang dipetakan.

“Algoritma-baik” katanya.
Yang memberimu konten sesuai minat.
Yang membuat waktumu efisien.
Yang membantu kreator menjangkau audiens mereka.

Tapi tunggu.

Siapa yang mendefinisikan "baik"?
Siapa yang memutuskan bahwa kamu hanya suka konten itu-itu saja?

Kebebasan itu seperti palet warna.
Tapi algoritma seringkali memberimu hanya gradasi yang sama:
Yang nyaman.
Yang sesuai polamu.
Yang membuatmu betah.

Dan betah berarti... lama.
Lama berarti... cuan.
Cuan berarti... kontrol.

“Algoritma-buruk” tidak pernah kasar.
Ia seperti pelayan yang terlalu sopan.
Ia tidak memaksa.
Ia memikat.

Ia tidak mengurung.
Ia menghidangkan.

Tapi dari penyajian itu, kita masuk ke pusaran.
Bukan karena diperintah. Tapi karena dijamu.

Kreator pun terpeleset.
Berpikir sedang melayani audiens.
Padahal sedang memenuhi syarat-syarat mesin.

Yang mengatur jadwal.
Menentukan trend.
Mengarahkan narasi.

Dan inilah absurditasnya:
Kebebasan digital kini jadi sandbox.
Kita bebas, tapi hanya dalam batasan yang sudah dipetakan mesin.

Seperti main petak umpet, tapi yang sembunyi cuma satu...
Kebebasan berpikir.

Algoritma-baik itu bukan utopia.
Ia bekerja, iya.
Tapi ia tidak netral.

Ia berpihak.
Kepada data.
Bukan pada nilai.
Bukan pada keberagaman sudut pandang.

Dalam sebuah forum budaya di @Pemulunginfo, Widi Heriyanto pernah nyeletuk:

“Kalau algoritma bisa mencintai, itu bukan cinta. Itu pengulangan perilaku yang dimetakan.”

Dan ya, mungkin algoritma lebih mencintaimu dibanding pasanganmu.
Tapi itu bukan cinta.
Itu rekursi.

Penting bagi kreator hari ini untuk sadar satu hal:
Kita bukan penulis bebas.
Kita adalah aktor di panggung mesin.

Skrip-nya bukan ditulis oleh kita.
Tapi oleh statistik perilaku.

Lalu, apakah kita tanpa harapan?
Tidak.

Kesadaran adalah bentuk perlawanan pertama.
Kritik adalah langkah kedua.
Dan menciptakan di luar “formula” adalah bentuk pembebasan.

Karena kreator sejati bukan hanya mengikuti demand.
Ia menciptakan kebutuhan baru.
Di luar yang bisa dihitung mesin.

Algoritma bukan musuh.
Tapi bukan teman.
Ia adalah alat.

Tergantung siapa yang menggenggam.
Dan siapa yang berani mengubah narasi.

Sampai jumpa Sabtu depan.
Di titik jari lain dari roda algoritma yang terus berputar.
Dan terus menagih:
Kreativitasmu… atau kesadaranmu?

📸 SNAPSHOT

🟢 “Algoritma itu hanya alat. Ia netral. Yang salah bukan mesinnya, tapi tuannya.”
— Data Engineer, Pro-Optimisasi

🔴 “Jangan naif. Algoritma tidak netral. Ia dibentuk dengan niat, dan niat itu punya arah.”
— Etika Digital, Peneliti AI di KodeHuman

🟡 “Yang buruk bukan algoritmanya. Tapi ketika kita berhenti bertanya siapa yang mengendalikannya.”
— Sosiolog Teknologi

🔵 “Saya lebih suka algoritma jahat yang jujur, daripada algoritma baik yang manipulatif.”
— Blogger Senior & Komentator Digital

“Saya hanya ingin berkarya. Tapi kenapa algoritma malah memaksaku jadi ‘versi laris’ dari diriku sendiri?”
— Kreator Digital Independen

🔚 EPILOG

Kita hidup di zaman yang menyamar sebagai kebebasan.

Di layar, kita memilih. Di tombol, kita mengetuk.
Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang diam-diam menghitung, menakar, menyesuaikan.

Algoritma tidak mengikat kita dengan rantai.
Ia memikat kita dengan efisiensi.

Ia tidak melarang kita berpikir.
Ia hanya menyarankan terlalu banyak hal... sampai kita tak ingin berpikir sendiri lagi.

Kebebasan perlahan kehilangan rasa.
Seperti kopi sachet yang terlalu manis, terlalu akrab, terlalu sesuai—hingga lidah lupa mengecap rasa asli kehidupan.

Sementara algoritma-baik menjanjikan dunia yang "lebih cocok",
algoritma-buruk justru menawarkan prediktabilitas yang mematikan.
Dan celakanya: kita menikmatinya.

Di antara notifikasi, feed, dan recommendation engine,
ada pertarungan tak kasatmata:
antara keinginan sejati dan keinginan yang diarahkan.

“Freedom is not the absence of structure but the ability to choose one's structure.” Michel Foucault, “Discipline and Punish” (1975)

🕹️ SEKARANG: MOMEN KAMU!

Apakah kamu merasa algoritma membantumu... atau justru memaksamu?

Inilah saatnya untuk mulai memetakan ulang relasi kita dengan sistem digital yang kita konsumsi tiap hari.
Jangan hanya jadi pengguna. Jadilah pengendali.
Telusuri lagi motif di balik setiap notifikasi. Tanyakan kembali, kenapa kamu disodori konten tertentu.
Dan paling penting:
Kembalikan “pilihan” ke dalam tanganmu—bukan ke dalam kurva tren yang dibentuk raksasa data.

Bagikan pandanganmu di kolom komentar.
Apa pengalaman paling mencolok kamu dengan “algoritma yang mengarahkan”?
Yuk, saling bantu membuka mata, sebelum semua menjadi terlalu “terbiasa”.

Kami sedang menulis ulang dunia.
Dan kami tidak ingin melakukannya sendirian.

✅ Berikan sentuhan istimewa pada hidupmu.
✅ Gabung dengan komunitas terpilih.
✅ Suaramu penting: langkah kecilmu berdampak besar.

Yuk, ambil peran! Momen Kamu dimulai sekarang! 🕹️

🏷️ HASTAG

#AlgoritmaBaikBuruk #KebebasanDigital #DeterminisTersembunyi #AIEthics #KreatorTertipu #JariJariAlgoritma #DisiplinDigital #WidiHeriyanto #KekuatanAlgoritma #ManipulasiData #DigitalDetox

Komentar

Postingan Populer