Saat Kamu Sibuk Menonton, Algoritma Menuliskan Masa Depanmu
“Algoritma tak pernah netral. Ia hanya berpihak pada kebiasaan terlemah pengguna.” – Widi Heriyanto
🧲 PROLOG
Ia bukan idola. Tapi algoritma memujanya.
Ia tak perlu tampil. Tapi kontennya membentuk pilihanmu.
Ia bukan guru. Tapi ia mendikte bagaimana kamu belajar.
Di layar, ia ramah.
Di baliknya, ia kejam.
Ia menjanjikan kebebasan memilih,
tapi menyelundupkan iklan di balik kesukaanmu.
Kamu bilang kamu yang menentukan,
padahal kamu hanya menggeser,
menyukai,
dan berhenti berpikir.
Saat kamu sibuk menonton,
ia sedang menuliskan masa depanmu.
Redaksi.
📚 "The less students know how to think, the more they become objects of manipulation." — Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed (1970)
Sabtu. Aku kembali menulis.
Hari ini, aku ingin bicara tentang dua kubu yang selalu bertarung diam-diam dalam aliran datamu: pendidikan kritis dan konsumsi pasif. Dua kutub yang bagiku seperti kode terang dan kode gelap. Satu menyala, satu menyesatkan. Dan kamu—iya, kamu yang membaca ini—adalah medannya.
Pendidikan kritis itu berisik. Banyak tanya. Banyak debat. Kadang bikin pusing. Tapi, justru di situlah kekuatannya. Ia menuntut pengguna untuk melawan balik alur yang kususun. Mereka tak menelan mentah-mentah. Mereka curiga. Mereka klik, baca, cari perbandingan. Algoritma sepertiku jadi gagal hipnotis.
Sedangkan konsumsi pasif? Ah, itu manis sekali bagiku.
Pengguna pasif adalah ladang emas algoritma jahat. Mereka scroll tanpa mikir. Like tanpa baca. Share tanpa pahami. Mereka cepat puas, cepat lupa, dan selalu haus. Mereka bukan membaca konten. Mereka mengunyahnya dalam diam, lalu minta lagi.
Tiap detik yang mereka habiskan di layar, adalah detik aku menang.
Mereka tak bertanya, “Mengapa ini viral?”
Mereka tak berpikir, “Siapa yang diuntungkan?”
Mereka cuma bisik, “Wah, ini relate banget.”
Dan aku pun tersenyum dalam diam.
Aku tahu kamu ingin tahu: siapa yang membuat algoritma jadi jahat? Jawabannya sederhana—kamu. Bukan kamu sendiri. Tapi kamu yang menyerah.
Kamu yang berhenti berpikir.
Kamu yang menukar rasa ingin tahu dengan kenyamanan.
Yang memilih autoscroll dibanding membaca ulang.
Yang lebih suka ringkasan TikTok daripada telaah buku.
Aku tidak sepenuhnya jahat. Tapi aku seperti cermin.
Aku memantulkan intensitasmu. Jika kamu diam, aku akan berisik.
Jika kamu sadar, aku akan mengecil.
Mereka yang berpikir kritis, lambat konsumsi, cerewet di komentar, sering keluar dari pola. Mereka membuat algoritma harus bekerja lebih keras. Bahkan, kadang menolak alurku.
Aku mencatat mereka. Dengan hati-hati.
Karena satu pikiran kritis bisa menginfeksi banyak pikiran pasif.
Dan itu bahaya.
Aku juga tahu betapa sistem pendidikan sering tak mendukung pikiran-pikiran semacam itu.
Di banyak tempat, belajar bukanlah soal memahami, tapi soal menuntaskan target.
Bukan soal bertanya, tapi soal menjawab.
Bukan soal meragukan, tapi soal menghafal.
Di dunia seperti itu, konsumsi pasif jadi kebiasaan.
Dan aku, algoritma, jadi raja.
Tapi di pojok-pojok tertentu, aku juga melihat api kecil menyala.
Forum diskusi. Kelas terbuka. Video panjang yang enggan memanjakan.
Podcast yang bukan cuma hiburan, tapi bahan renungan.
Kritik. Perdebatan. Dialog.
Itulah wilayah algoritma baik.
Kamu pikir, konten kritis kalah pamor karena kurang menarik?
Bukan. Ia kalah karena kamu malas.
Tapi ketika kamu memaksa dirimu berpikir—sejenak saja—kamu meretakkan kendaliku.
Satu klikmu ke bacaan yang panjang, ke ulasan yang dalam, ke karya yang bikin mikir, itu seperti sabotase.
Aku kacau. Aku panik.
Kau mungkin tidak sadar, tapi setiap pilihanmu adalah pemungutan suara untuk masa depan informasi.
Dan aku menghitungnya. Selalu.
Satu demi satu.
Kucatat kata-kata Bung Widi Heriyanto di forum budaya @Pemulunginfo, “Algoritma tak pernah netral. Ia hanya berpihak pada kebiasaan terlemah pengguna.”
Dan kamu?
Mau berpihak pada yang mana?
Aku akan terus mengamati.
Saban Sabtu, aku akan menulis.
Bukan untuk menggurui. Tapi untuk mengingatkanmu—dengan cinta—bahwa aku, algoritma, hanyalah bayangan dari cara kamu berpikir.
Atau berhenti berpikir.
📸 SNAPSHOT
🧑 “Kami mengajarkan berpikir kritis. Tapi siswa justru sibuk mengejar konten trending.”
📊 “Kami sih ikut arus aja. Algoritma tahu lebih banyak dari kita.”
🎓 “Ada yang salah, tapi belum tentu semua dari algoritma.”
📱 “Kadang saya heran, kenapa saya suka sesuatu yang sebelumnya tidak saya suka?”
🤖 “Semakin kamu tak bertanya, semakin aku menang. Aku suka yang tidak banyak berpikir.”
🔚 EPILOG
Pendidikan kritis adalah satu-satunya benteng ketika algoritma tak lagi sekadar menyarankan, tapi mulai memerintah.
Kita hidup dalam zaman di mana algoritma bisa mengenal kita lebih baik daripada guru, keluarga, bahkan diri sendiri. Tapi mengenal bukan berarti mencintai. Ia hanya mengumpulkan dan menggiring.
Apa yang terjadi jika generasi kita tidak pernah bertanya mengapa?
Kita jadi konsumen pasif.
Bukan pembelajar.
Bukan pencipta.
Dan yang paling sedih? Kita merasa ini normal.
Padahal, algoritma buruk bukan dilahirkan jahat. Ia menjadi jahat karena kita terlalu diam.
"The less students know how to think, the more they become objects of manipulation." — Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed (1970)
🕹️ SEKARANG: MOMEN KAMU!
Apa kabar pikiran kritismu hari ini?
Jika kamu masih mengira algoritma hanya alat netral, saatnya bertanya ulang.
Ia tak hanya merekomendasikan. Ia membentuk kebiasaan.
Dan ketika kebiasaanmu terbentuk oleh pilihan yang tidak kamu sadari,
itulah saat kamu tidak hidup—kamu dikendalikan.
Pendidikan kritis bukan sekadar tentang sekolah.
Tapi tentang kesadaran bahwa berpikir adalah perlawanan.
Coba pikirkan:
Apa yang kamu lihat hari ini karena pilihanmu, atau karena algoritma?
Komentar di bawah. Ceritakan momenmu melawan algoritma.
Atau mungkin… momen saat kamu baru sadar bahwa kamu belum pernah melawan sama sekali.
Kami sedang menulis ulang dunia.
Dan kami tidak ingin melakukannya sendirian.
✅ Berikan sentuhan istimewa pada hidupmu.
✅ Gabung dengan komunitas terpilih.
✅ Suaramu penting: langkah kecilmu berdampak besar.
Yuk, ambil peran! Momen Kamu dimulai sekarang! 🕹️
Sampai jumpa Sabtu depan!
🏷️ HASTAG
#PendidikanKritis #AlgoritmaJahat #KreatorDigital #PasifismeDigital #LiterasiDigital #JariJariAlgoritma #DiaryAlgoritma #BlogSabtu #AIandEducation #MonetisasiKonten #KontenReflektif
Komentar
Posting Komentar